9/11/2011

things unsaid

Lama merantau ke negara orang, ngga lama-lama juga sih. Tapi hampir dua tahun gue di sini. Gue sadarin emang banyak dukanya daripada sukanya. Bukan karena kangen orang tua, tapi lebih berasa duka karena keadaan kenapa gue ditaro di Korea. Yang walau berkali-kali gue katakan "ya sudah" dan berusaha menerima tapi ngga bisa dipungkirin emang sebenernya gue masih belom bisa menerima sepenuhnya.

Tapi gue sadar, manusia makin tua harus makin dewasa. Gue sering ngomelin temen gue di SMA karena sikapnya ga dewasa. Dan mereka sudah sangat tahu gue yang ngga suka sama kekanak-kanakkan. Yang selalu pengen ketemu orang yang jauh lebih dewasa dalam hal sikap, perilaku, dan lain-lain. Tapi datangnya gue ke Korea buat gue sadar kalau sebenernya gue ngga ada dewasa-dewasanya sama sekali. Sampai hari ini sebelum gue menulis blog ini pun gue masih merasa sangat kekanak-kanakkan banget.

Seorang yang dewasa ngga akan mengomel kebanyakan sebelum melakukan sesuatu. Dan seorang yang dewasa ngga akan mengeruhkan suasana. Tapi nasi yang sudah berubah menjadi bubur akan dibuat jadi bubur ayam istimewa olehnya. Dan gue banyak melihat orang-orang yang gue kenal di sini bisa menyelesaikan semua kesulitan mereka tanpa mengeluh. Tapi itu tetap ngga bikin masalah gue selesai karena gue ngga bisa melihat itu dari mereka. Gue tetap melihat yang buruk-buruk ajah.

Sampai ada seseorang yang gue ngga kenal, yang ketika gue mencari-cari segala informasi yang bisa gue dapat tentang dia. For information, gue adalah seorang wannabe. Gue selalu pengen jadi orang lain dan menurut gue orang lain selalu lebih baik daripada gue. Though I know it's wrong. Tapi gue sedang berusaha untuk mengubahnya. Dan berusaha mencari apa yang gue sendiri inginkan. And not trying to imitate anyone else. Tapi this one, gue awalnya ngga begitu sreg. Tapi ada sesuatu yang bikin gue sangat tertarik dengan dia.

Apa sih yang bisa bikin dia sangat menarik di depan banyak orang. Seperti apa orangnya, seperti apa kepribadiannya. For the first time, gue ngerasa dia ga beda jauh dari orang-orang kebanyakan yang gue liat yang demen main, hura-hura dan hidupnya cuma seneng-seneng doang. Tapi dari beberapa yang di lakukan di wesbite social networknya, dia menyatakan kalau dirinya terpelajar. Dari situ menyatakan kalo dia ngga main-main. Dia pintar dan terpelajar, tapi dari gaya hidupnya juga ngga cupu atau nerd. Terus, sampailah radar wannabe gue ingin jadi seorang yang pintar juga, but of course I want it in my own way. My goal is to be different, not to be like her.

Somehow gue menemukan artikel blognya dia di google pada tahun 2009. Dan gue tahu di tahun 2009 dia memiliki sesuatu crucial yang sangat gue inginkan, bahkan saat dia sudah tak memilikinya lagi di tahun 2010, gue sampai sekarang dan detik ini masih sangat menginginkannya. Mungkin akan sangat membingungkan. Intinya, she had something yang crucial buat gue. Tapi di blog dia ngga ngomongin soal itu, where I thought she would've. Ternyata dia membicarakan kuliahnya dia, dimana dia pernah mengalami kejatuhan juga. Dia bilang dia pernah dapat B dalam sebuah pelajaran dan dia ngerasa sedih. Gue sempet jerit dalam hati, "WHAAATT??" B aja lu udah sedih, maann. Dia ngga main-main banget berarti pinternya. Tapi dari gayanya dia ngga keliatan seorang yang demen belajar tapi demen bergaul kemana-mana. Dia menyatakan dia suka melakukan semuanya perfect. Which gue banget, I'm a perfectionist banget. Tapi gue bukan pemaksa. Kalau masih bisa dibuat perfect, gue akan berusaha. Tapi kalo ngga bisa, gue akan berusaha memberi yang terbaik saja.

Dan, di situ dia ngerasa sedih banget. Sampai suatu saat dia masuk kuliah dan dia gagal di awal semester tapi dia dikasih tahu sama seorang senior dia untuk chill out. Dan dia sadar, untuk terus-terusan meratapi kegagalannya ngga akan mengubah keadaan dia. Memang ngga semua orang akan terus-terusan melakukan kesalahan kalo dia mau berusaha. Dan pasti ada kesalahan atau kecacatan dalam hidup kita yang kadang harus kita biarkan exist. Tapi dengan membiarkan semuanya berlalu dan justru menikmati apa yang dia lakukan dan dia pelajari di kampus justru jadi bikin dia lebih termotivasi untuk melakukannya dengan lebih baik di kemudian hari dan dapat nilai yang baik. Bahkan lebih baik daripada saat dia memaksa dirinya untuk jadi sempurna dalam segala hal.


Pertama kali gue tahu orang ini, yang ada di pikiran gue adalah menyaingi dia. Karena entah kenapa I wanted to be different, tapi dalam hati gue masih ada keinginan kecil untuk jadi lebih dari seorang dia. Tapi pas gue menemukan tulisan dia ini, gue justru berbalik mengagumi dia. I thought dia bukan seorang yang pantas untuk gue kagumi. Tapi sekarang gue jadi berbalik mengagumi seorang dia. Tulisan dia bener-bener bikin gue merasa kagum dan bikin gue termotivasi. I used to do everything under pressure. I used to do all things because people told me to. Tapi satu hal yang ngga pernah gue lakukan adalah, melakukan semuanya dengan enjoy and let some little flaws go. Biarkan kegagalan atau kecacatan sedikit dalam hidup kita karena itulah hidup. Tidak akan pernah ada yang sempurna di dunia ini. Tapi kalau kita bisa menikmati semuanya dan melakukannya dengan chill out dan santai, semua akan jauh lebih baik dan jauh lebih menyenangkan.


Sampai sebelum gue menulis blog ini, gue masih benci dengan whereabout gue. Tapi gue memang sebelum balik lagi ke korea setelah liburan summer di Indonesia gue emang udah berfikir-fikir. Kenapa gue ngga bisa let everything flow and roll it down. Toh, satu setengah tahun di Korea harusnya bikin gue berubah banyak dan lebih bisa menerima keadaan. Karena gue akan makin gede dan makin senior di mata adek-adek kelas gue. Gue ngga mungkin bisa menunjukkan sisi kanak-kanak gue terus dengan terus-terusan ngga terima dengan semuanya. Dan lagian gue ngga mau 4 tahun hidup dalam tekanan ini. It's sad. But I do believe one day, there's something big is waiting for me. Even bigger than this.

Jadi gue sekarang sudah lebih bisa menerima dibanding semester-semester sebelumnya. And sadly, it took 3 semesters for me to realize what I should've done. Memang penyesalan selalu datang terlambat, kalo ngga, di dunia ini ngga ada orang yang gagal. I'm kinda regretting myself for realizing it now. But, sebenernya keterlambatan memang jauh sudah lama sejak sebelum gue sampai ke korea ini. Tapi like I said yang gue kutip dari kata-kata temen gue. Nasi udah jadi bubur, kenapa ngga dijadikan bubur ayam spesial aja sekalian. Daripada mubazir.

Terutama surprisingly dalam waktu hampir dua tahun ini, gue melihat banyak kegagalan-kegagalan dari beberapa orang yang gue ketahui. Yang gue ngga pernah nyangka itu akan terjadi. Yang lebih shockingly adalah seseorang yang gagal yang dimana dia udah ngelakuin 65% dari apa yang harus dilakukan sama dia. Dan dia menghilang tanpa alasan. Lebih tepatnya alasannya belum terungkap. Ternyata banyak hal yang ngga terduga terjadi. Life's like that. We don't even know what's gonna happen in the next minute. Today we can laugh, and tomorrow we can cry. This month I can be in a country and in the other country the next month. But one thing yang gue pelajarin, tetep enjoy in everything you do.

Lakukan semuanya dengan sukacita. Semua yang dilakukan dengan sukacita ngga akan sia-sia kok. And I'm trying it now. And again, kalau nasi udah jadi bubur, lebih baik diubah jadi bubur ayam spesial daripada dibuang. Happy ChuSeok, fellas :)

No comments: